Ramadhan selalu identik dengan pengendalian diri. Namun di era ketika layar ponsel menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan, tantangan menahan diri tak lagi sekadar soal lapar dan dahaga. Notifikasi, linimasa media sosial, dan arus informasi yang tak pernah berhenti kini menjadi distraksi baru yang sering luput disadari.

Data Digital 2025 Indonesia dari We Are Social dan Data Reportal menunjukkan masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tujuh jam per hari di internet dan sekitar tiga jam di media sosial. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan aktivitas digital tertinggi di dunia. Kondisi tersebut turut memengaruhi cara masyarakat menjalani bulan suci.
Ir. Aliy Hafiz, S.Kom., M.T.I., menilai fenomena ini sebagai tantangan spiritual baru. Menurutnya, Ramadhan seharusnya menjadi momentum tazkiyatun nafs—penyucian jiwa—namun ruang batin kerap dipenuhi kebisingan digital.
Detoks Digital Ramadhan
Sebagai Pandu Literasi Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (KEMKOMDIGI) Provinsi Lampung, Aliy melihat persoalan ini bukan sekadar soal kecanduan gawai, tetapi tentang literasi dan kesadaran. “Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi kemampuan mengendalikan dan memaknainya secara bijak,” ujarnya dalam sebuah diskusi.
Di lingkungan akademik, pandangannya semakin menguat. Sebagai Dosen Bisnis Digital ITBA Dian Cipta Cendikia, Aliy memahami bagaimana algoritma media sosial bekerja dalam sistem ekonomi perhatian (attention economy). Platform dirancang untuk mempertahankan atensi pengguna selama mungkin. Konten yang muncul sering kali telah disesuaikan dengan preferensi individu, membuat pengguna terus menggulir tanpa henti.
Sebagai pengamat IT Lampung, ia menilai persoalan utama bukan lagi akses informasi, melainkan kemampuan mengelola perhatian. Fragmentasi fokus akibat kebiasaan berpindah dari satu konten ke konten lain membuat pikiran sulit memasuki suasana reflektif yang dibutuhkan dalam ibadah.
Fenomena tersebut terlihat dalam keseharian masyarakat. Menjelang berbuka, keluarga memang berkumpul, tetapi percakapan sering digantikan oleh aktivitas layar. Di masjid, ponsel masih aktif sebelum dan sesudah tarawih. Tanpa disadari, Ramadhan yang seharusnya menghadirkan ketenangan justru dipenuhi distraksi.
Hafiz menawarkan gagasan detoks digital sebagai bagian dari ikhtiar spiritual. Ia menegaskan, detoks digital bukan berarti memusuhi teknologi atau mematikan internet sepenuhnya. Sebaliknya, ini adalah upaya sadar untuk membatasi penggunaan perangkat digital agar tidak mengganggu kualitas ibadah dan relasi sosial.
Bagaimana Detoks Digital Ramadhan
Langkahnya sederhana namun konsisten: mematikan notifikasi saat waktu ibadah, menciptakan zona bebas gadget di meja makan sahur dan berbuka, membatasi waktu akses media sosial, serta mengganti sebagian waktu scrolling dengan membaca Al-Qur’an atau berdzikir.
Menurutnya, Ramadhan mengajarkan menahan yang halal demi kebaikan yang lebih tinggi. Maka menahan layar demi kekhusyukan merupakan bentuk pengendalian diri yang relevan di era modern.
Jika selama sebulan penuh kebiasaan ini dijalankan, ia optimistis perubahan tidak berhenti setelah Ramadhan. Teknologi akan kembali pada fungsinya sebagai alat, bukan penguasa perhatian.
Penutup
Di tengah derasnya arus digital, gagasan detoks digital menjadi pengingat bahwa tantangan spiritual hari ini bukan hanya soal lapar dan dahaga, tetapi juga tentang kemampuan menjaga fokus dan kejernihan hati. Dan mungkin, seperti yang disampaikan Aliy, Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memulainya.