6 Kesalahan dalam Implementasi OSINT di Organisasi

Share ke:

Kesalahan dalam implementasi osint di dalam organisasi sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya teknologi atau kemampuan teknis, melainkan oleh cara pandang yang keliru sejak awal. Banyak organisasi memulai OSINT dengan niat baik, namun berakhir dengan hasil yang tidak berdampak atau bahkan menimbulkan resistensi internal.

6 Kesalahan Implementasi OSINT
Kesalahan Umum dalam Implementasi OSINT di Organisasi

Sebagai lead auditor ISO 27001 dan konsultan keamanan informasi, saya kerap menemukan bahwa kegagalan OSINT bukan karena konsepnya salah, tetapi karena pendekatannya tidak selaras dengan kebutuhan organisasi dan pimpinan. Artikel ini membahas kesalahan-kesalahan umum tersebut agar organisasi dapat memulai OSINT secara lebih matang dan strategis.

#1. Kesalahan dalam Implementasi OSINT karena Fokus Terlalu Teknis

Salah satu kekeliruan paling umum adalah memosisikan OSINT sebagai aktivitas teknis semata. Diskusi langsung diarahkan pada alat, teknik pencarian, atau metode analisis, tanpa terlebih dahulu menjawab mengapa OSINT diperlukan.

Pendekatan ini membuat OSINT terjebak di level operasional dan sulit mendapat dukungan pimpinan. Ketika manfaatnya tidak dikaitkan dengan risiko, reputasi, atau pengambilan keputusan, OSINT akan dipandang sebagai aktivitas tambahan yang tidak prioritas.

Akibatnya, hasil OSINT jarang digunakan sebagai dasar kebijakan atau strategi, dan hanya berhenti sebagai laporan teknis yang tidak ditindaklanjuti.

#2. Kesalahan dalam Implementasi OSINT akibat Tidak Ada Kepemilikan Fungsi

Kesalahan berikutnya adalah tidak jelasnya siapa yang bertanggung jawab atas OSINT. Risiko dari informasi terbuka berada di antara banyak fungsi: IT, komunikasi, legal, hingga manajemen risiko.

Tanpa kepemilikan yang jelas, OSINT menjadi aktivitas sporadis. Tidak ada kesinambungan, tidak ada mekanisme eskalasi, dan tidak ada integrasi dengan proses pengambilan keputusan.

Dalam banyak organisasi, OSINT akhirnya dilakukan secara ad hoc—biasanya setelah muncul isu—bukan sebagai fungsi deteksi dini yang berkelanjutan.

Mengapa Kesalahan dalam Implementasi OSINT Terjadi Berulang

Kesalahan dalam implementasi osint sering berulang karena organisasi menganggapnya sebagai proyek, bukan proses. Ketika OSINT diperlakukan sebagai tugas sekali jalan, nilainya menjadi sangat terbatas.

Selain itu juga, kesalahan lain muncul ketika organisasi berharap OSINT langsung memberikan jawaban pasti, padahal fungsinya adalah memberi konteks dan peringatan dini. Tanpa pemahaman ini, ekspektasi menjadi tidak realistis dan kepercayaan terhadap OSINT menurun.

#3. OSINT Dianggap Sebagai Alat Mencari Kesalahan

Kesalahan lain yang tidak kalah serius adalah persepsi bahwa OSINT digunakan untuk mencari kesalahan individu atau unit kerja tertentu. Persepsi ini menimbulkan resistensi sejak awal dan membuat banyak pihak defensif.

Padahal, OSINT seharusnya diposisikan sebagai alat kesadaran organisasi, bukan alat pengawasan personal. Jika pendekatannya salah, organisasi justru kehilangan kesempatan untuk membangun budaya keamanan informasi yang sehat.

OSINT yang efektif membantu organisasi memahami eksposur, bukan menunjuk siapa yang harus disalahkan.

#4. Tidak Mengaitkan OSINT dengan Risiko Nyata Organisasi

Banyak hasil OSINT gagal berdampak karena tidak dikaitkan dengan risiko yang relevan bagi organisasi. Informasi disajikan apa adanya, tanpa analisis dampak terhadap reputasi, kepercayaan publik, atau keputusan strategis.

Pimpinan tidak membutuhkan daftar data terbuka. Mereka membutuhkan pemahaman tentang apa artinya data tersebut bagi organisasi. Tanpa konteks risiko, OSINT akan sulit diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

#5. Mengabaikan Peran Pimpinan dalam OSINT

OSINT yang berjalan tanpa dukungan pimpinan akan sulit bertahan. Bukan karena pimpinan harus terlibat teknis, tetapi karena legitimasi dan arah strategis berasal dari level tersebut.

Kesalahan umum yang terjadi adalah menjalankan OSINT secara “diam-diam” agar tidak menimbulkan kegaduhan. Pendekatan ini justru membuat OSINT terisolasi dan tidak terintegrasi dengan tata kelola organisasi.

Ketika pimpinan memahami bahwa OSINT adalah alat untuk melihat risiko lebih awal, dukungan akan muncul secara natural.

#6. OSINT Tidak Diintegrasikan dengan Tata Kelola Keamanan Informasi

Dalam organisasi yang telah menerapkan ISO 27001, OSINT sering berdiri sendiri dan tidak dihubungkan dengan kerangka manajemen risiko yang sudah ada. Ini adalah peluang yang terlewat.

OSINT dapat memperkaya penilaian risiko dengan perspektif eksternal. Ia membantu organisasi melihat apakah kontrol yang sudah diterapkan relevan dengan eksposur nyata di ruang publik.

Tanpa integrasi ini, OSINT kehilangan konteks dan sulit dipertahankan sebagai bagian dari sistem manajemen keamanan informasi.

Penutup: Belajar dari Kesalahan, Bukan Mengulanginya

Sebagian besar kegagalan OSINT bukan karena konsepnya keliru, melainkan karena pendekatannya tidak matang. Organisasi yang belajar dari kesalahan akan menyadari bahwa OSINT bukan tentang alat, bukan tentang mencari kesalahan, dan bukan tentang kepanikan.

OSINT adalah tentang melihat lebih awal, memahami konteks, dan memberi waktu bagi organisasi untuk bertindak dengan tenang. Dengan menghindari kesalahan-kesalahan umum ini, organisasi dapat menjadikan OSINT sebagai bagian yang bernilai dalam tata kelola keamanan informasi.

Share ke: